Tarian kuda gipang merupakan salah satu kesenian yang ada pada masa kerajaan Banjar. Tarian ini memiliki kesamaan dengan tari kuda lumping yaitu sama-sama memakai kuda yang terbuat dari anyaman rotan , bedanya kalau kuda gipang, kudanya dikepit di ketiak. Tarian ini biasanya terdiri dari 7 orang bahkan lebih, 1 orang penari sebagai seorang pemimpin atau raja dan 6 oarang lainnya saling berpasangan sebagai pasukan. Musik pengiringnnya terdiri dari alat-alat musik gamelan seperti sarun, gong besar dan kecil, kanong. Tarian ini dulunya digelar ketika ada upacara adat perkawinan untuk mengiringi pengantin pria menuju rumah mempelai wanita. Namun, tarian ini kemudian berubah menjadi tari tradisonal kalimantan Selatan.
Kesenian ini sekarang sudah tidak dipakai lagi dalam acara resmi, bahakan dalam pergelaran pun tidak pernah menampilkan seni tari ini kesenian ini akan benar-benar hilang.