Desember 7, 2008 oleh iwi3
Tarian kuda gipang merupakan salah satu kesenian yang ada pada masa kerajaan Banjar. Tarian ini memiliki kesamaan dengan tari kuda lumping yaitu sama-sama memakai kuda yang terbuat dari anyaman rotan , bedanya kalau kuda gipang, kudanya dikepit di ketiak. Tarian ini biasanya terdiri dari 7 orang bahkan lebih, 1 orang penari sebagai seorang pemimpin atau raja dan 6 oarang lainnya saling berpasangan sebagai pasukan. Musik pengiringnnya terdiri dari alat-alat musik gamelan seperti sarun, gong besar dan kecil, kanong. Tarian ini dulunya digelar ketika ada upacara adat perkawinan untuk mengiringi pengantin pria menuju rumah mempelai wanita. Namun, tarian ini kemudian berubah menjadi tari tradisonal kalimantan Selatan.
Kesenian ini sekarang sudah tidak dipakai lagi dalam acara resmi, bahakan dalam pergelaran pun tidak pernah menampilkan seni tari ini kesenian ini akan benar-benar hilang.
Ditulis dalam Budaya Banjar | Leave a Comment »
By wiwik norliyana s on Jun 27, 2008 | Reply
Menulis itu gampang-gampang susah. Gampang jika kita memiliki niat dan semangat untuk menulis. Dan akan menjadi suatu hal yang susah jika kita selalu dibingungkan dengan berbagai alasan untuk tidak menulis
Ditulis dalam MK Antropologi | 1 Komentar »
Mar 6th, 2008 at 9:54 am
Proses belajar kebudayaan itu berlangsung saat menusia baru dilahirkan sampai manusia itu akan meninggal. Saat manusia baru dilahirkan ia sudah mendapat pengalaman dan belajar pola-pola tindakan dalam berinteraksi dengan individu lain. Perantara pertamanya adalah keluarga, yang mengenalkan nilai-nilai budaya kepada individu tersebut.
Semakin dewasa individu semakin banyak pengalaman yang dia dapat dari lingkungannya. Tentu saja lingkungan itu memiliki budaya yang kemudian mempengaruhi kepribadian dan prilaku individu itu. Ia harus belajar menyesuaikan diri dengan segala aturan-aturan kebudayaan dan adat-istiadat yang ada.
Proses ini sudah dimulai atau ada dalam pikiran individu sejak kecil. Dari kecil sampai dewasa dia meniru segala tingkah laku dan tindakan orang dewasa. Dengan meniru maka tinglah laku dan tindakannya menjadi suatu pola yang akan diatur oleh norma-norma.
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
By wiwik norliyana on Jun 6, 2008 | Reply
Ass…
Tong kosong nyaring bunyinya. Saat ini mungkin peribahasa itu yang pantas buat kita (termasuk saya). Banyak bicara tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Zamannya memang modern, tapi kita tidak lebih hidup di zaman prasejarah. Setiap orang mungkin saja bisa menulis, tapi tidak setiap orang bisa mengeluarkan idenya dalam bentuk tulisan. Ya..itu salah satu alasan mengapa kita tidak menulis. Saya sendiri merasa sulit untuk menulis (termasuk manusia purbakala ya pak).
Mengabadikan suatu ide dalam bentuk tulisan memang sangat bermanfaat. Mengapa demikian? Apa pun yang kita tulis tidak bisa dibantah oleh orang lain, karena kita mempunyai bukti tertulis sedangkan orang lain tidak.
Jadi, sebaiknya dari sekarang kita mulai menulis. Mulai dari hal-hal kecil ke hal-hal yang besar. Tinggalkan zaman purbakala dan benar-benar belajar menjadi manusia zaman modern.