Tarian kuda gipang merupakan salah satu kesenian yang ada pada masa kerajaan Banjar. Tarian ini memiliki kesamaan dengan tari kuda lumping yaitu sama-sama memakai kuda yang terbuat dari anyaman rotan , bedanya kalau kuda gipang, kudanya dikepit di ketiak. Tarian ini biasanya terdiri dari 7 orang bahkan lebih, 1 orang penari sebagai seorang pemimpin atau raja dan 6 oarang lainnya saling berpasangan sebagai pasukan. Musik pengiringnnya terdiri dari alat-alat musik gamelan seperti sarun, gong besar dan kecil, kanong. Tarian ini dulunya digelar ketika ada upacara adat perkawinan untuk mengiringi pengantin pria menuju rumah mempelai wanita. Namun, tarian ini kemudian berubah menjadi tari tradisonal kalimantan Selatan.
Kesenian ini sekarang sudah tidak dipakai lagi dalam acara resmi, bahakan dalam pergelaran pun tidak pernah menampilkan seni tari ini kesenian ini akan benar-benar hilang.
By wiwik norliyana on Jun 6, 2008 | Reply
Ass…
Tong kosong nyaring bunyinya. Saat ini mungkin peribahasa itu yang pantas buat kita (termasuk saya). Banyak bicara tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Zamannya memang modern, tapi kita tidak lebih hidup di zaman prasejarah. Setiap orang mungkin saja bisa menulis, tapi tidak setiap orang bisa mengeluarkan idenya dalam bentuk tulisan. Ya..itu salah satu alasan mengapa kita tidak menulis. Saya sendiri merasa sulit untuk menulis (termasuk manusia purbakala ya pak).
Mengabadikan suatu ide dalam bentuk tulisan memang sangat bermanfaat. Mengapa demikian? Apa pun yang kita tulis tidak bisa dibantah oleh orang lain, karena kita mempunyai bukti tertulis sedangkan orang lain tidak.
Jadi, sebaiknya dari sekarang kita mulai menulis. Mulai dari hal-hal kecil ke hal-hal yang besar. Tinggalkan zaman purbakala dan benar-benar belajar menjadi manusia zaman modern.